Acara 5 : Problematika Kesuburan Tanah

Acara 5 : Problematika Kesuburan Tanah




 


Pada hari Sabtu, 21 November 2020, saya melakukan kunjungan ke suatu lahan sawah untuk melakukan pengamatan pada sawah tersebut. Sawah yang saya kunjungi berlokasi di Desa Ngargosari, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.Kunjungan dilakukan pada pukul 14.00-15.00 WIB. Wilayah ini berada pada ketinggian kurang lebih 800 meter di atas permukaan laut dengan fisiografi berupa perbukitan dan topografi berbukit. Kedalaman air tanah sekitar pada lokasi adalah sekitar 25 meter.

Pada lahan sawah yang saya kunjungi, saya bertemu dengan seorang petani dan melakukan wawancara dengan petani mengenai permasalahan kesuburan tanah pada sawah tersebut. Petani yang saya temui bernama Bapak Yatino. Bapak Yatino merupakan seorang petani yang berusia 60 tahun. Lahan sawah milik Bapak Yatino berukuran 50 meter x 25 meter. Tanah memiliki tekstur geluh lempungan , berwarna coklat tua dengan struktur gumpal bersudut. Kebatuan pada tanah sangat sedikit dan memiliki kadar lengas yang cukup tinggi.

Pada saat saya ke lokasi, Bapak Yatino sedang melakukan pengolahan tanah. Pengolahan tanah dilakukan oleh Bapak Yatino dengan cara dicangkul. Varietas padi yang biasa ditanam oleh Bapak Yatino adalah padi varietas IR-64. Jarak tanam yang digunakan dalam menanam padi adalah sekitar 15 cm x 15 cm. Pupuk yang biasa digunakan terdapat dua macam yaitu pupuk organik dan pupuk anoerganik. Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kandang yang diaplikasikan pada saat sebelum penanaman, sedangkan pupuk anorganik yang digunakan adalah pupuk urea, pupuk phonska, dan pupuk TSP.

Pupuk kandang merupakan pupuk organik yang berasal dari kotoran hewan. Kualitas pupuk kandang dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu jenis ternak, kualitas dari pakan ternak, serta cara penampungan pupuk kandang (Novizan, 2002). Pupuk urea merupakan pupuk nitrogen. Nitrogen merupakan unsur hara makro yang diperlukan oleh tanaman. Penggunaan pupuk N pada tanaman padi dengan dosisi yang tepat dapat meningkatkan hasil produksi padi ( Chaturvedi, 2005). Pupuk phonska merupakan salah satu pupuk NPK yang memilki kandungan nitrogen 15%, fosfor 15%, kalium 15% , sulfur 10%, dan kadar air maksimal 2%, yang memiliki sifat larut dalam air (Zulia et al., 2017) .

Lahan sawah yang dimiliki Bapak Yatino biasanya dilakukan pola tanam monokultur. Pola tanam monokultur merupakan sistem penanaman dengan cara menanam satu jenis tanaman pada suatu areal atau lahan. Pola tanam monokultur memungkinkan hasil panen yang lebih banyak dibandingkan pola tanam yang lainnya, hal ini karena tidak adanya persaingan antara tanaman dalam mendapatkan sinar matahari maupun unsur hara (Syahputra et al., 2017). Lahan ditanami padi sebanyak dua kali dalam satu tahun, dimana pada musim tanam pertama ditanami padi dan pada musim tanam kedua ditanami padi.

Secara umum, tanah pada lahan sawah milik Bapak Yatino bersifat subur. Akan tetapi terdapat permasalahan yang dihadapi oleh Bapak Yatino, yaitu pada akses pupuk. Adanya pembatasan dalam pemberian pupuk anorganik bersubsidi oleh pemerintah menyebabkan kesulitan dalam mendapatkan pupuk anorganik bersubsidi untuk memenuhi kebutuhan pupuk di lahan sawah. Selain itu, pupuk anorganik bersubsidi hanya dapat diakses oleh petani yang memiliki kartu tani, sehingga hal ini menyebabkan pupuk anorganik bersubsidi tidak tersedia di warung atau toko terdekat di daerah Bapak Yatino. Sehingga untuk mendapatkan pupuk anorganik bersubsidi tersebut perlu menempuk jarak yang jauh dari rumah Bapak Yatino. Hal tersebut menambah biaya yang diperlukan dalam mendapatkan pupuk anorganik yang dibutuhkan untuk budidaya padi.

Dalam menghadapi permasalah yang terjadi pada akses pupuk seperti yang dialami oleh Bapak Yatino dapat dilakukan alternatif yaitu pemanfaatan pupuk alami atau pupuk organik dalam budidaya padi. Pupuk organik dapat menambah kandungan bahan organik pada tanah, unsur hara mikro di dalam tanah, serta dapat meningkatkan hasil produksi. Penggunaan pupuk organik dalam budidaya tanaman juga dapat menjadi salah satu alternatif dalam penggunaan pupuk kimia yang harganya semakin mahal (Nuro et al., 2016). Pupuk organik terdapat berbagai macam jenisnya yaitu pupuk kandang, pupuk hijau, dan kompos. Pupuk kandang merupakan pupuk yang  mudah terdekomposisi dan menghasilkan C-organik, N-total yang lebih tinggi dibandingkan jerami padi, hijau jagung, dan flemingia. Kandungan unsur hara pada pupuk kandang bervariasi tergantung jenis ternak, makanan ternak, umur tenak, dan kesehatan ternak. Pupuk hijau merupakan pupuk yang berasal dari sisa-sisa panen atau yang ditanam secara khusus untuk menhasilkan pupuk hijau, tanaman di pinggir lahan, pinggir jalan, mapun slauran irigasi. Sedangkan kompos merupakan hasil pembusukan dari limbah tanaman seperti jerami, sabut kelapa, alang-alang, dedaunan, dan tongkol jagung, serta kotoran hewan yang telah mengalami dekomposisi oleh mikroorganisme  seperti fungi, aktinomisetes, dan cacing tanah (Juarsah, 2014).

 

 

Daftar Pustaka

Chaturvedi, Indira. 2005. Effect of nitrogen fertilizer on growth, yield and quality of hybrid rice (Oryza sativa). Journal Central European Agriculture. 6(4) : 611-618.

Juarsah, Ishak. 2014. Pemanfaatan pupuk oganik untuk pertanian organik dan lingkungan berkelanjutan. http://balittro.litbang.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2015/10/16-Ishak-Pemanfaatan-Pupuk-Organik-Berkelanjutan.pdf. Diakses pada 29 November 2020.

Novizan. 2002. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Nuro, F., D. Priadi dan E. S. Mulyaningsih. 2016. Efek pupuk organik terhadap sifat kimia tanah dan produksi kangkung darat ( Ipomoea reptans Poir.). Prosiding Seminar Nasional Hail-Hasil PPM IPB 2016. 29-39.

Syahputra, N., Mawardati, dan Suryadi. 2017. Analisis faktor yang mempengaruhi petanimemilih pola tanam pada tanaman perkebunan di Desa Paya Palas Kecamatan Ranto Peureulak Kabupaten Aceh Timur. Jurnal Agrifo. 2(1) : 1-10.

Zulia, C., Safruddin, dan Rohadi. 2017. Kajian pemberian pupuk NPK Phonska (15:15:15) dan pupuk organik cair hantu terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman mentimun (Cucumis sativus L.). Jurnal Penelitian Pertanian BERNAS. 13(2) : 65-71.


 

 

Komentar